Riset: Hal Krusial Supaya Konten Kamu Langgeng di Mata Audience

Riset: Hal Krusial Supaya Konten Kamu Langgeng di Mata Audience

Pernah merasa sudah buat konten habis-habisan, tapi tetap nggak ada yang klik atau engage?

Bisa jadi bukan karena idenya jelektapi karena kita melewatkan satu hal krusial: riset.
Dan bukan sembarang risetmelainkan riset yang berangkat dari rasa ingin tahu terhadap keresahan nyata audiens kita.

Di era digital, semua serba cepat. Tapi bukan berarti kita boleh buru-buru dalam memahami siapa yang kita ajak bicara.

Insight terbaik lahir bukan dari asumsi, melainkan dari keberanian untuk mendengar langsung dan menggali alasan di balik perilaku para audience.

Sebelum berpikir soal tools, funnel, atau ads—ada baiknya kita mulai dari pertanyaan sederhana:

“Masalah apa yang sebenarnya ingin mereka selesaikan?”

Nah pertanyaannya sekarang gimana sih cara riset konten yang benar?

Oke berikut ini akan saya bagikan beberapa hal yang sering saya lakukan kalau mau riset konten

  1. Langkah pertama: kenal dulu siapa yang kamu ajak ngobrol di kontenmu.

Kalau kamu asal bikin, ya kayak ngomong di keramaian tanpa tahu siapa yang dengerin. Tapi kalau kamu tahu targetnya, kamu bisa sesuaikan bahasa, gaya visual, bahkan durasi kontennya.

Cara sederhana bikin buyer persona untuk konten:

  • Siapa mereka? (Usia, profesi, lokasi, pekerjaan kesibukan mereka)
  • Mereka aktif di platform apa? (IG, TikTok, LinkedIn?)
  • Masalah atau kebutuhan mereka apa yang kira-kira kalau liat kontenlu bakal di save, share dan like?
  • Tipe konten yang mereka suka gimana? Bisa video, carousel atau artikel tentang insight bisnis mereka (biasanya ini untuk audience B2B)

Tools bantu:

  • Google Form buat survey followers
  • Instagram Polling di story
  • Tanya langsung di kolom komentar

Misalnya, kamu bikin konten edukatif tentang Digital Marketing. Ternyata audiens kamu mayoritas pengusaha umur 25–35, aktif di TikTok, dan suka video singkat tapi “berdaging”. Ini bisa jadi dasar kamu mengembangkan ide konten yang ngena.

2. Lihat Tren yang Sedang Naik Daun

Konten yang tepat sasaran biasanya juga relevan dengan tren.

Tren bukan cuma soal challenge TikTok, tapi juga bisa berupa topik yang sering dicari, hashtag yang ramai, atau format konten yang lagi viral.

Tools yang bisa kamu pakai:

  • Google Trends: Lihat topik yang lagi naik di Indonesia.
  • TikTok Search: Cari keyword dan lihat ide-ide konten yang sedang booming.
  • YouTube Explore: Cek trending video sesuai niche kamu.

Contohnya, kamu content creator di bidang finance, dan kamu lihat keyword “cara menabung untuk generasi sandwich” lagi naik. Boom! Itu bisa jadi konten yang powerful dan relate banget.

3. Intip Kompetitor dan Benchmark

Kalau kamu nggak tahu siapa yang udah sukses, kamu bakal jalan sendiri tanpa arah.

Riset kompetitor itu penting buat tahu:

  • Jenis konten yang mereka posting
  • Format mana yang paling engage (carousel, video, tweet atau thread).
  • Caption seperti apa yang paling banyak komentarnya.
  • Visual apa yang paling banyak di share atau save.

Langkah-langkahnya:

  • Pilih 3–5 akun yang mirip dengan niche kamu.
  • Catat konten dengan engagement tinggi.
  • Analisa pola konten mereka (hari posting, gaya bahasa, durasi).

Tools bantu:

  • Spreadsheet Notion.
  • Social Blade (lihat pertumbuhan akun kompetitor.

4. Dengarkan Audiens Kamu (Social Listening)

Riset market nggak selalu harus pakai tools canggih. Kadang, sinyal paling kuat datang dari audiensmu sendiri.

Caranya?

  • Baca komen-komen di postinganmu
  • Cek DM atau feedback dari followers
  • Perhatikan pertanyaan yang sering muncul

Contoh: Kalau kamu sering dapet komen kayak “Bang, tips workoutnya biar badannya cakep kayak gitu?”. Nah, itu bisa kamu jadikan ide konten berikutnya sekaligus petunjuk bahwa audiensmu haus edukasi praktis.

5. Buat & Uji Riset Sendiri (Mini Research)

Validasi ide konten sebelum produksi besar-besaran itu kunci. Dengan uji cepat, kamu bisa tahu mana konten yang worth to post.

Beberapa ide mini riset:

  • Buat dua judul konten, post di story polling IG.
  • Minta followers vote topik mana yang mereka ingin lihat minggu ini.
  • Uji dua format konten (video vs carousel) dan bandingkan performanya.

Studi kasus singkat:
Seorang content creator fitness memposting polling IG: “Kalian lebih pengen konten workout di rumah atau gym?”. Ternyata 78% milih di rumah. Dari situ, dia fokus bikin konten home workout dan view-nya naik 3x lipat!

Kalau kamu mau terus dapet insight tentang Digital Marketing, cara bikin konten yang tepat sasaran, dan strategi riset yang relatable.

Stay tuned ya, bakal banyak update seru dan tips berguna lainnya buat kamu yang serius ngembangin personal brand atau bisnis lewat konten!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *